Saat Luka Tak Punya Bahasa: Refleksi Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam.

Di banyak tempat, perempuan diajarkan untuk kuat bahkan sejak mereka belum sempat memahami apa itu luka. Mereka tumbuh dalam dunia yang telah lebih dulu menetapkan jalan hidupnya: bagaimana bersikap, bagaimana berbicara, bahkan bagaimana menerima takdir tanpa banyak bertanya. Dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam, kita tidak hanya membaca cerita namun kita sedang mendengarkan jeritan yang selama ini ditahan dalam diam.
Novel ini seperti membuka pintu yang lama terkunci. Di baliknya, ada kisah tentang perempuan yang tubuhnya bukan lagi miliknya sepenuhnya. Tentang hidup yang berjalan, tetapi terasa seperti bukan pilihan. Tentang luka yang tidak diberi ruang untuk sembuh.
“Tidak semua luka terlihat. Ada yang hidup diam-diam di dalam tubuh, tanpa pernah benar-benar sembuh.”
Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah kenyataan bagi banyak perempuan bahwa ada rasa sakit yang harus dipeluk sendirian, tanpa suara, tanpa saksi. Luka yang tidak diakui, justru menjadi luka yang paling lama tinggal. Dalam dunia yang digambarkan novel ini, perempuan sering kali tidak diberi kesempatan untuk berkata “tidak”. Bahkan ketika hatinya menolak, realitas memaksanya untuk tetap berjalan.
“Perempuan sering kali tidak diberi pilihan, hanya diberi jalan yang sudah ditentukan.”
Betapa sunyinya hidup ketika pilihan bukan lagi milik kita. Ketika masa depan telah digariskan oleh orang lain, dan kita hanya diminta untuk patuh. Di titik ini, kita mulai bertanya apakah ini tentang budaya, atau tentang ketidakadilan yang terlalu lama dibiarkan?. Namun di balik segala keterbatasan itu, selalu ada secercah keberanian. Sekecil apa pun, ia tetap berarti. Karena bersuara, dalam dunia yang membungkam, adalah bentuk perlawanan paling jujur.
“Jika suaraku tidak didengar, setidaknya aku tahu aku pernah mencoba untuk bersuara.”
Kalimat ini seperti bisikan yang pelan, tetapi menggema. Ia mengingatkan bahwa perempuan tidak sepenuhnya diam. Mereka hanya menunggu ruang-ruang untuk didengar, dipahami, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya. Pada akhirnya, isi buku itu tidak hanya meninggalkan cerita ia meninggalkan pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin tidak nyaman, tetapi perlu kita hadapi bersama: sudahkah kita benar-benar mendengar suara perempuan di sekitar kita?. Mari mulai dari hal kecil lebih peka, lebih mau mendengar, dan tidak diam saat melihat ketidakadilan. Karena perubahan bisa dimulai dari kita. ☺

~ Nurmilansari
(Sekretaris Bidang Pemberdayaan Perempuan HMP PAI Periode 2025-2026)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama